Tumbuh Kembang Anak: Kapankah Kita Perlu Khawatir?

Tumbuh kembang anak tidak akan pernah habis untuk dibahas mulai dari zaman nenek moyang hingga sekarang. Mengapa saya bilang nenek moyang? Karena memang dari zaman dahulu itu sudah banyak mitos-mitos seputar tumbuh kembang anak, yang tentunya muncul karena sering terjadi di masyarakat lalu dihubung-hubungkan demi mencari sebuah penyebab.

Mitos seputar tumbuh kembang anak

Banyak sekali mitos yang beredar tentang tumbuh kembang anak. Jika seorang ibu tidak tahu ilmunya, tentu akan percaya begitu saja terhadap mitos tersebut. Kalau zaman dulu mungkin akan sangat wajar karena penyebaran informasi belum sepesat zaman sekarang. Namun, kalau zaman ini masih saja percaya, rasanya seperti kebangetan. Jangan sampai gagdet-nya smart, tapi yang punya tidak smart dalam memanfaatkan teknologi, ya.

Mulai dari tumbuh gigi, ada mitos yang menghubungkan dengan terlalu dalamnya plasenta bayi dikuburkan. Lain lagi cerita tentang anak ASI yang cenderung badannya tidak ‘bantat’ atau perkembangannya cenderung lambat, katanya sih gara-gara orang tuanya keseringan berhubungan badan. Saya sering nggak habis pikir dengan mitos zaman dulu. Ajaibnya masih banyak yang percaya. Padahal mitos tersebut tidak ada dasarnya sama sekali.

Jangan sampai, ya, ibu zaman sekarang percaya begitu saja tanpa mencari tahu dasarnya. Yuk, kita terus belajar.

Membandingkan anak

Rasanya tidak adil jika kita membandingkan tumbuh kembang anak kita sendiri dengan anak orang lain yang sepantaran. Tanpa kita sadari membandingkan tumbuh kembang ini akan membuat kita sendiri yang akan merasakan stresnya.

Meski seringkali ketika kita sendiri sebagai ibu berusaha tidak membandingkan anak kita dengan anak lain, tapi akan ada saja mulut orang luar yang berusaha membandingkan. Sebagai ibu kita harus belajar dan punya benteng sendiri agar ketika dibandingkan kita sudah kuat mental dan tahu harus bersikap seperti apa.

Kita memang harus terus belajar, termasuk bagaimana tumbuh kembang anak yang sesuai dengan usianya. Salah satunya dengan pedoman KPSP.

Kuesioner Pra Skrinning Perkembangan (KPSP)

KPSP adalah salah satu pedoman yang bisa kita jadikan rujukan, apakah anak saya perkembangannya sesuai usia? Buat yang mau download, bisa di sini.

KPSP sendiri bisa dilakukan setiap 3 bulan sekali dari usia 0–6 tahun. Dengan mengisi KPSP rutin secara mandiri, kita jadi tidak perlu khawatir lagi ketika ada yang membanding-bandingkan anak kita selama skor menurut KPSP masih tergolong normal.

Lalu bagaimana jika skor anak kita ternyata kurang? Kita bisa melakukan stimulasi sesuai yang disarankan di KPSP. Dan jika setelah distimulus tidak juga menunjukkan perkembangan positif, kita bisa mulai berpikir untuk konsultasi kepada ahlinya.

Terapi tumbuh kembang anak

Di beberapa rumah sakit besar biasanya sudah ada dokter anak dengan subspesialis tumbuh kembang. Selain itu, di beberapa kota besar biasanya juga ada klinik yang khusus untuk tumbuh kembang.

Jika sudah berkonsultasi, tentu akan diberi pengarahan bagaimana terapi yang sesuai untuk mengejar ketertinggalan tumbuh kembang anak.

Jadi, memang ada kalanya kita cuek dengan komentar orang lain jika memang masih dalam batas normal. Namun, kita juga harus tetap melakukan stimulasi agar anak tumbuh sesuai usianya. Dan, kita juga perlu khawatir jika skor di KPSP tidak sesuai usia anak.

Semangat belajar untuk semua ibu. Agar anak kita sehat dan tumbuh sesuai usianya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *