Tiga Jenis Gaya Pengasuhan Anak, Ibu yang Mana?

www.ruangibu.com – Setiap orang tua tentu memiliki gaya pengasuhan anak yang berbeda-beda. Pola asuh bisa terjadi karena meniru gaya orang tua atau dari belajar. Namun, seindah-indahnya teori, praktiknya biasanya tetep terbawa gaya asuh ‘turunan’ dari orang tua.

Dulu zaman anak pertama saya pernah belajar tentang gaya pengasuhan di Eyang Wiwik yang beliau memang pemerhati penddidikan dan perkembangan anak. Beliau menjelaskan ada tiga macam pola asuh orang tua; permisif, demokratis, dan otoriter.

Apa saja beda dari ketiganya? Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Pola asuh permisif

Seperti artinya, pola asuh ini adalah pola asuh yang membebaskan anak untuk melakukan apa saja sesuai keinginan. Anak dibebaskan tanpa batasan yang jelas, apa saja boleh.

Biasanya pola asuh ini terjadi pada orang tua yang terlihat ‘sabar’ sekali kepada anak. Sekilas terlihat baik karena memberi kebebasan anak dan jarang memarahi anak karena melanggar aturan.

Namun, ternyata pola asuh ini kurang baik untuk perkembangan anak karena menjadikan anak memilki pribadi semau gue dan egois, apa saja mauku harus diizinkan.

2. Pola asuh demokratis

Seperti namanya, pola asuh ini melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, tapi tetap memiliki aturan-aturan yang jelas dari orang tua.

Pola asuh ini dipandang menjadi pola asuh yang paling ideal karena anak dan orang tua bisa sama-sama bersinergi dalam hal apa pun. Selain itu pola asuh ini bisa menjadikan diri anak menjadi lebih percaya diri karena selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Mengasuh anak itu ada kalanya seperti menunggang kuda, terkadang tali harus ditarik keras, tapi terkadang tali perlu dikendurkan.

3. Pola asuh otoriter

Yup, seperti namanya, pola asuh ini adalah pola asuh yang mana orang tua yang memegang kendali segalanya. Anak-anak sama sekali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Orang tua memiliki aturan ketat yang anak mau tidak mau, suka tidak suka harus patuh terhadap aturan tersebut.

Pola asuh ini seperti pola-pola militer dalam mendidik anggota. Pola asuh yang cenderung keras dengan disiplin tinggi. Walau terlihat jahat, pola asuh ini ternyata mampu menjadikan anak menjadi anak dengan disiplin tinggi.

Dari tiga pola asuh di atas, semua pasti ada kekurangan dan kelebihannya, tinggal bagaimana orang tua mampu tetap mengarahkan untuk kebaikan anak. Jika pola asuh otoriter tali kekang selalu dikencangkan, pola asuh permisif selalu mengendurkan, maka pola asuh demokratis memadukan keduanya.

Mendidik anak memang seni yang tidak pernah selesai untuk dipelajari. Belajarnya sepanjang hidup. Ujiannya setiap saat.

Semua teori pengasuhan akan percuma jika kita tidak sabar dan sadar saat mempraktikkan. Aku pun masih harus terus dan terus belajar karena seringkali kelelahan membuat pak kusir lupa diri.

Kalau dalam teori parenting islami, ada masanya anak menjadi raja, tapi ada saatnya menjadikan anak tawanan perang. Semua dilakukan sesuai tahapan usia.

Kalau di keluarga kami, kami tidak saklek menerapkan teori-teori parenting. Semua kami sesuaikan dengan kondisi anak dan kondisi orang tua selama tidak melanggar syariat Islam.

Mendidik anak di akhir zaman memang memiliki tantangan yang tidak mudah. Zaman berubah dengan sedemikian cepatnya karena teknologi yang juga dengan cepat berkembang. Orang tua harus melek terhadap perkembangan zaman, jangan sampai kalah dengan apa yang sudah diketahui anak.

Dari tiga pola asuh di atas, kalau ibu cenderung menggunakan pola asuh yang mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *