Reviev Film Anak: Denias dan Ritual Potong Jari

Ruangibu.com – Ada yang sudah pernah menonton film Denias, Senandung di Atas Awan? Sebuah film yang terbit tahun 2006 karya Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Film ini diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Denias yang merupakan keturunan dari suku pedalaman di Papua.

Karena kemarin saya mencarikan tontonan untuk anak-anak yang lokal, jadilah mencoba mengajak anak-anak menonton film ini. Film kisah perjuangan pendidikan di suku pedalaman Papua. Seorang Denias yang berasal dari suku pedalaman berusaha untuk bisa sekolah, tidak seperti orang-orang lain di sukunya yang belum mengenal sekolah.

Budaya Primitif Suku Pedalaman

Pada awal film muncul suasana di suku pedalaman yang bahkan ada wanita yang bertelanjang dada dan berbagai suasana lain yang masih primitif. Rumah-rumah mereka atapnya terbuat dari rumbai, mereka pun tidur beralaskan jerami. Bicara soal jerami jadi ingat novel Heidi yang juga tidur beralaskan jerami, ada yang sudah pernah baca?

Suku pedalaman dengan budaya primitifnya membuat mereka masih asing dengan pendidikan. Jika tidak ada relawan yang memperjuangkan untuk pergi ke pelosok-pelosok tentu mereka akan selamanya menjadi kalangan terbelakang.

Budaya Potong Jari

Salah satu hal yang menjadi perhatian saya dan anak-anak saat menonton film ini adalah adanya budaya potong jari yang dilakukan pada keluarga inti ketika ada anggota keluarganya yang meninggal dunia.

Dalam film diceritakan Denias dipaksa akan dipotong jarinya saat mamanya meninggal dunia. Budaya ini mereka lakukan sebagai ungkapan kesedihan karena kehilangan anggota keluarga. Menurut budaya mereka menangis saja tidak cukup untuk mengungkapkan kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga.

Mendengar hal ini anak-anak saya sedikit ketakutan dan membayangkan bagaimana sakitnya dipotong jarinya.

Sekolah Anak Pedalaman

Mungkin memang belum banyak relawan yang mau dan mampu untuk masuk ke pedalaman Papua dengan medannya yang cukup ekstrim. Kata teman yang ada di Papua, transportasi di sana antar kota biasanya memakai helikopter karena memang medannya curam jika ditempuh dengan jalur darat.

Pada film Denias diceritakan ada guru dari Jawa yang awalnya mengajar mereka di sekolah dengan bangunan semipermanen dari kayu. Namun, bangunan yang amat sederhana itu pun roboh saat ada gempa berkekuatan sekitar 5 SR.

Karena guru tersebut pergi balik ke Jawa, mereka pun diajar oleh sosok Maleo yang diperankan Ari Sihasale. Dalam perjalanannya mendidik anak-anak, Maleo sempat ditentang oleh orang setempat. Bersekolah memang masih hal asing bagi mereka.

Hingga saat Maleo harus pergi karena ada panggilan tugas sebagai tentara, Denias pun harus berjuang sendiri dengan pergi ke kota agar bisa sekolah. Seperti pesan terakhir mamanya sebelum meninggal kepada Denias agar dia bersekolah.

Ribetnya Birokrasi

Perjuangan Denias untuk bisa bersekolah pun ternyata tidak mudah. Karena di sekolah sebelumnya juga tidak pernah ada rapor hasil belajar, bisa dibilang sekolah nonformal.

Beberapa guru bahkan petinggi daerah setempat menolak Denias bersekolah karena bukan dari suku sekitar sekolah. Namun, dengan perjuangan salah satu guru yang diperankan Marcella Zalianty, akhirnya Denias pun di sekolah.

Narasi di akhir film menceritakan bahwa akhirnya Denias melanjutkan sekolah hingga ke Australia. Sebuah perjalanan indah anak pedalaman menjadi ilmuwan.

Karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin selama kita yakin; ikhtiar, tawakal, dan doa. Hasilnya biar Allah yang menentukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *