MUSIMNYA PEREMPUAN

Musimnya Perempuan

Kehidupan perempuan memiliki musimnya sendiri. Ada fase-fase yang dijalani perempuan. Mulai dari musimnya saat masih gadis, berkeluarga, hingga menjadi ‘ibu’. Yang pada akhirnya nanti musim menjadi ibu pun akan dipergulirkan lagi menjadi musimnya menikmati masa berdua dengan pasangan. Ya, semua akan ada waktunya masing-masing.

Saya memakai istilah ‘musim’ meminjam istilah yang dipakai oleh Bu Wina Risman saat menjelaskan musimnya perempuan saat menjadi ibu.

Musim Gadis

Kehidupan saat masih gadis tentu sangat berbeda jauh dengan ketika sudah berkeluarga. Seorang perempuan saat masih gadis pada umumnya memiliki kebebasan yang lebih dalam menentukan apa-apa saja yang menjadi prioritas.

Saat masih gadis tentu sebaiknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kapasitas diri. Karena bagaimanapun tidak bisa dimungkiri ketika sudah berkeluarga waktu untuk diri sendiri akan berkurang. Maka jangan sampai kita menyesal karena menyia-nyiakan musim gadis hanya dengan bersenang-senang tanpa tujuan yang jelas. Rugi.

Musim Berkeluarga

Setiap wanita tentunya memiliki musim berkeluarga yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Semua tentu sudah yang terbaik menurut Allah. Jodoh akan datang di saat yang tepat menurut-Nya.

Pada musim ini tentu kita akan melewati terlebih dahulu masa penyesuaian. Masa ini pun setiap orang akan beda-beda, ada yang cepat, ada juga yang lambat. Saling memahami karakter pasangan memang bukan hal mudah. Bahkan untuk yang sudah puluhan tahun menikah pun masih ada saja hal yang bisa memicu kesalahahpahaman.

Ada sebuah ungkapan dari seorang teman, kapasitas diri seorang wanita ketika masih gadis itu harusnya 200%, agar ketika telah menikah masih ada 100%, masyaallah. Berkeluarga memang bukan halangan untuk tetap berkarya. Karena bukankah tujuan menikah adalah saling melengkapi demi mencapai cita-cita bersama?

Musim Menjadi ‘Ibu’

Salah satu konsekuensi setelah menikah adalah menjadi ibu. Dan tak bisa dimungkiri bahwa tugas menjadi ibu ini cukup menguras waktu dan pikiran. Menjadi ibu adalah salah satu perubahan drastis dalam diri seorang perempuan. Namun memang begitulah kodrat seorang perempuan, sebagai tonggak penerus kehidupan manusia, yang melahirkan benih-benih baru generasi.

Musim menjadi ibu ini pun sebenarnya tak lama. Menurut Ibu Wina Risman, musim menjadi ibu ini hanya berlangsung hingga anak terakhir berusia dua SD, karena di usia itu anak sudah mulai mandiri mengurus dirinya sendiri.

Jika sudah begitu, ibu bisa mulai aktif berkegiatan dan mengembangkan diri. Meski sesungguhnya ibu ya tetaplah ibu, hanya perannya untuk mengurus keperluan anak sudah mulai berkurang. Jadi bisa mulai fokus ke hal lain.

Untuk semua yang saat ini masih di musim menjadi ‘ibu’ sabarlah, waktumu tidak akan lama. Kelak kau akan merindukan kerepotanmu hari ini.

Akan ada masanya kelak anak-anak akan memiliki kehidupan sendiri dengan rumah tangga masing-masing. Dan orang tua akan menikmati masanya sendiri berdua dengan pasangan menikmati masa tua. Meski kita tidak tahu takdir apa yang menyapa di masa itu.

Tiga Peran Perempuan

Sebagaimana musim perempuan, perempuan memiliki tiga peran utama, sebagai dirinya, sebagai istri, dan sebagai ibu. Tiga komponen yang harus berjalan bersamaan dan seimbang. Meski ketiganya pun memiliki porsi sendiri-sendiri, tapi jangan sampai kita abai hingga terlalu fokus pada salah satu peran saja.

Semoga sebagai perempuan, kita mampu menjadi perempuan yang berdaya sesuai dengan musimnya.

One Comment

  1. Sebagai wanita harus menyesuaikan “musim”nya yaa… Sehingga bisa mengambil peran di setiap musim yang sedng dijalani.
    Semoga perkembangan musim dari waktu ke waktu membuat pendewasaan dan kebaikan untuk diri sendiri dan lingkungan tempat ia berpijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *