Hati-hati dengan Anak yang Terlalu Penurut

Salah satu materi zoominar yang bagus sekali dari Fatherman berjudul “Saat Anak Mulai Membangkang” membuat saya mendapat banyak sekali insight baru tentang pengasuhan anak. Zoominar kali ini diisi oleh Ustadz Bendri dan Ayah Irwan. Alhamdulillah zoominar ini terbuka untuk umum dan gratis, serta ada rekamannya di link berikut.

Youtube dari Fatherman

Pembangkangan pada anak tentu menjadi salah satu hal yang sering bikin orang tua ngelus dada, termasuk saya. Padahal, pada materi dijelaskan bahwa anak disebut membangkang itu apabila telah mencapai usia aqil baligh. Lhah, anak saya yang sulung saja belum mencapai usia itu, jadi sebenarnya terlalu dini jika saya mengatakan anak membangkang.

Anak membangkang atau tumbuh kembang?

Menurut KBBI, mem.bang.kang itu:

v tidak mau menurut (perintah); mendurhaka

v menentang; menyanggah

Tentu sering, kan, menghadapi anak yang tidak mau menuruti keinginan orang tua? Dan orang tua (saya) biasanya sering tergesa-gesa untuk memaksakan kehendak pada anak.

Menurut Ustadz Bendri dan Ayah Irwan, sebelum aqil baligh anak tidak mau menurut itu sebenarnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak untuk mempertahankan dirinya. Seorang anak juga harus dilatih memiliki ego agar kelak ketika dewasa dia mampu mempertahankan dirinya dan tidak mudah terpengaruh orang lain.

Saya pun teringat dengan pembahasan fase egosentris pada anak, yaitu pada usia 0–6 tahun. Pada usia ini, anak memang belum bisa berbagi mainan atau makanan. Dan ini memang harus tetap ditumbuhkan agar kelak ketika dewasa mampu mempertahankan miliknya.

Apalagi untuk anak perempuan, fase ini sangat penting agar tidak mudah menyerahkan dirinya pada laki-laki.

Membangkang ketika dewasa

Kita tidak pernah tahu bagaimanakah kelak anak-anak ketika dewasa, akankah menjadi shalih atau salah? Bagaimana anak saat masih anak-anak bukanlah tolak ukur perilaku anak ketika dewasa.

Bisa jadi yang saat anak sangat penurut, saat dewasa membangkang, atau sebaliknya.

Jika anak membangkang ketika dewasa, tentu banyak sekali faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah lingkungan. Pengaruh lingkungan ini sangat besar terhadap anak. Dalam materi pun dijelaskan jika anak terbiasa menurut, maka begitu juga ketika berada di lingkungan yang ‘salah’. Anak pun akan mudah menuruti apa yang diinginkan lingkungannya.

Menjadi leader atau follower?

Anak tidak selalu menurut saat masih anak-anak sebenarnya adalah cara anak belajar mempertahankan pendapatnya. Sebagai orang tua memang sebaiknya tidak memaksakan kehendak yang menurut kita baik, selama masih dalam koridor aman, kenapa tidak? Komunikasi produktif adalah kunci.

Anak-anak yang pandai mempertahankan pendapatnya kelak justru akan menjadi leader, bukan sekadar follower yang terbiasa ikut apa saja kata orang tua. Jadi, selalu menurut itu belum tentu baik.

Catatan ini saya tulis sebagai pengingat diri sendiri dan semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya. Bismillah, semoga diberi kemudahan untuk mengasuh anak sesuai fitrahnya.

7 Comments

  1. Sebenarnya bisa dikatakan kalau anak2 usia 6 th sudha punya kemauan sendiri jadi suka menentang sm apa yg diinginkan ortunya. Saya pun kadang ngasih alasan kenapa menolak permintaannya. Di sisi lain, dia mudah banget menyerap segala sesuatu dari luar dan menirukannya. Dan itu kadang bikin pusing.. di rumah dia keukeuh sama pendirian lah kok di luar malah mudah terpengaruh.. jadi memang perlu tetap diperhatikan ya agar tidak mudah terpengaruh.

  2. Anak terlalu penurut memang tidak baik, tetapi kalau anak selalu menang sendiri dan tidak mau menerima masukan/kritikan, ya juga kurang baik. Mungkin baiknya anak diajarkan untuk berdiskusi..

  3. Pengetahuan baru bagi saya calon ayah, calon orang tua bagaimana memperlakukan anak-anak sesuai dengan fase usianya masing-masing.

    Kalo boleh tau bagaimana cara memperbaiki anak yang salah dalam pola asuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *